» » Transparent Bandwidth Management

Transparent Bandwidth Management

Penulis By on Rabu, 27 Maret 2019 | No comments

Transparent Bandwidth Management



Topology diatas hanya salah satu contoh topology sederhana saja karena kami mendapati di sebuah ISP memiliki topology yang aga' berbeda, Dimana Router yang bertindak sebagai Transparent Bandwidth Managementnya terletak di depan Router GW/Core.
logis sih, karena pada router core ISP tidak menggunakan NAT 😁

Ngapain sih, harus menggunakan Transparent Bandwidth Management segala bukannya Router GW/Core sudah mencukupi untuk memanage.
Statement itu ga' salah sih jika anda memiliki Router high class atau anda hanya memiliki sedikit client dan Router Core anda tidak menjalankan routing BGP, yah konsep ini ga' perlu karena hanya akan menambah cost.
Pada saat sebuah Router menjalankan queue, memory dan CPU-lah yang akan berkerja keras.



Hands practice on the Core Router!
- Pada Router Core memiliki config yang standart atau yang biasa kami lakukan jika ingin menghubungkan Mikrotik Router ke Internet sebagai Gateway.
- Disini kami menggunakan ether1 sebagai interface UPLINK ke Internet & ether2 sebagai interface LAN.


- Tidak lupa juga settings DNS, NAT, DHCP server untuk LAN, dan Default route.

Hands practice on the Bandwidth Management Router!
- Membuat interface bridge & Assign interface ether1-2 ke dalam bridge.


- Untuk memjadikan router ini sebagai transparent bandwidth management harus mengaktifkan “use-ip-firewall”, Jika tidak di aktifkan router ini tidak bisa melakukan shaper.

- Selanjutnya, membuat Queuenya bisa menggunakan Simple atau Tree, namun disini kami menggunakan Simple queue sebagai contoh.

- Hasil testing sebagia berikut.

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya